Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2010

SAJAK SOBIRIN ZAINI


dikutip dari RIAU POS
24 Januari 2010

Sajak Sobirin Zaini
Adieu, Desember
3 Januari 2010

  —narasi akhir tahun

Sunyi mana lagi yang tak kutelan sepanjang tahun ini
serpihannya berserak dalam lambungku
menyusup ke seluruh pori-pori tubuhku
dari aorta dan segenap pembuluh nadiku
menari, menyanyi, bergumam sendiri
menjilat-jilat seperti api yang bahangnya kesana kemari
mengakar bak seruk, kuat karena terendam dendam
amuknya meluap, meluluhlantakkan almanak yang tak henti
memacu kaki waktu memecah ombak
menyeruak dan laju menghentak-hentak!


Lalu berkatalah malam pada lelaki yang
menelan sunyi sepanjang tahun itu:
kugelapkan diriku setelah kutahu,
bulan pergi jauh meninggalkanku..

Ah, bulan, masih perlukah kau untuknya
gelap adalah sesuatu yang tak mungkin kau suka
lebih baik kau putuskan bahwa bintang
barangkali lebih baik untuk diterima
setelah berbagi cahaya dan kedipnya menggoda
takkan ada yang cemburu karena ia telah lama
dikutuk rindu memamah puisi sepanjang waktu
menyusun luka di dada setelah retaknya seribu
merangkai-rangkai sayap yang belahnya tak tentu

Ah, bulan, bukankah kau juga akan bicara
dengan dirimu sendiri bahwa gelap menurutmu
adalah sembilu yang kau tebarkan di tiap gagang rindu
yang kau lepas sementara ini waktu, tapi kau cari setelah perlu
tak usahlah kau hiraukan gelap yang bernama malam itu
sengatan mimpi pada ujung syaraf telah cukup membuatnya
menepis kecemasan yang terlanjur ada di belakang kepala
yang tak mungkin akan ia tinggalkan di mana-mana
seperti juga engkau membingkaikan bayangan
setelah cahaya itu telah lama kau padamkan

Dan di sini, ia bicara;
…aku tetaplah batu yang kau letakkan di ujung tubuhmu
dari puing Januari yang berduri di dua belas hitungan jari
aku tak lebih hanya sengau lenguhan getir
yang kuriwayatkan dalam kitab-kitab renta luka
tak dibaca, tak dicerna, tak diapa-apakan hanya
setakat dipijak, dihenyak, dilanyak, disentak!!! Akulah itu
wujud gelapnya puisi yang kemudian kuberi nama: Luka..

Setelah itu, menyeringai jugalah senja dari pintu Januari
entah kenapa lagi-lagi senja, katanya, tentu itu adalah pintu
rumah kelam yang telah ia temui sepanjang dua belas hitungan
yang perihnya tak hilang seperti bayang
yang coba engkau tinggalkan
setelah cahaya kau padamkan

Lalu, tergagaplah ia meniup terompet kematian
di kota tak bernama, di bawah sengat duri sunyi
gelap bernama malam itu kini berubah wujud menjadi dirinya sendiri

…ketika aku masih sibuk membangun rumah kenangan tak berpenghuni
banyak pesan yang tertinggal di simpang pelayaran
lantunan sunyi tak pernah tentukan pilihan jawaban
dan ia menjadikan gelap bernama malam
menyeluruh kedalam tiap sendi tubuhku sepanjang tahun…

Di mozaik yang lain, tentang ujung hitungan
ia tiba-tiba kembali pada sebuah ruangan serba putih
mereka tak pernah tahu siapa, yang mereka tahu hanyalah
batu dari musim ke musim yang tertulis sebuah rajah
tanda dari jejak lelaki yang menyampaikan kisah
tentang gelap yang ditawarkan malam
jadi sesuatu yang kini, sama sekali tak menarik bagi bulan
bersembunyi di entah ceruk mana sepanjang tahun itu

Dan tak terasa, bayangan demi bayangan berkejaran
dua belas kali hitungan gelap dalam genggamannya kini harus dilepaskan
sepanjang pergantian musim, berbagai cerita, kenangan dan luka
jadi catatan abadi dalam batok kepala dan ruang hampa jantungnya
entah sampai disini, atau memang benar-benar pergi setelah ini
dengan lunglai ia abaikan, gegas menuju sebuah persinggahan
tempat ia biasa menyeduh gigil puisi
mendidihkan sebak pada derajat keperihan
biar setelah itu, bulan tetap sesuatu yang menawarkan misteri
tentang sebuah pilihan absurd yang tak kunjung terurai
setelah barangkali, di mozaik ini, ia kemudian mampu melelapkan diri
di ranjang yang ia ukir dengan berbagai harapan
dan melafalkan satu kalimat asing
yang telah ia siapkan jauh hari sebelum itu
dengan tatapan nyalang penuh keberanian
pada Januari yang membukakan pintu pelayaran
demi pelayaran

rspmc, Ujung Desember, 2009

Catatan:
Adieu (Italia)= selamat tinggal

Sobirin Zaini, menulis dua genre sastra (puisi dan cerpen) lalu membaca berbagai buku.
Buku puisinya, Balada Orang-orang Senja, menjadi buku Pilihan Sagang 2009. Bersama kawan-kawan Pers Kampus AKLaMASI UIR menggerakkan Program “Cinta Buku, Gemar Membaca”. Budak Melayu Bengkalis ini memilih jadi seniman di tengah hiruk pikuk penerimaan pegawai negeri. Email: reinzaima@gmail.com



USAI


DIKUTIP DARI INTERNET

Usai

Tahukah engkau wahai kekasih
aku tak mampu lagi menerka laju angin di matamu
aku tak mampu lagi menghitung lengang di hatimu
semburat senyum kusut, selalu menjerat temali jantungku hingga tak berdebar lagi saat menciummu

Kau giling aku wahai kekasih
sampai aku pecah dan terasing
kau mungkin tahu, jazirah mana lagi yang tak kusinggah
dan ini, sungguh menelantarkanku menjadi asing dan mengasing

Sekali pagi bersama deru angin
kau jenguk aku dalam keresahan
dengan mendung aku kau tegur
lalu kau cubit kau pukul kau tindih kau pijak kau matikan 

kau tamatkan kau bisikkan
: mungkin Tuhan kita berbeda, 

sehingga cinta kita tidak pernah sama sayang ;


Diposkan oleh timur matahari DI BLOG NYA
DIPOSTING LG OLEH BINTANG KEJORA
DI MY BLOG



Minggu, 10 Januari 2010

SAJAK-SAJAK KU

ADUHAI


Setangkai bunga indah,
semerbak harum mewangi ,
ku selipkan di dalam janji kita.
sekuntum pelangi warnai bunga cinta antara kita.
resahku menelan resahmu,
hasrat ku menyala seperti api cintamu,
cintamu membara laksana hasratku yg berkobar,
rinduku membelai rindumu,
rindumu mengusap imajiku,
sayangmu membujuk sayangku yang selalu mengusap kasihku...
jiwaku menyatu dalam jiwamu,
membumbung tinggi ke angkasa membawa sejuta asa
ke puncak singgasana bahagia


COBA



COBA KAU DENGARKAN KICAUAN MERDU BURUNG2 

YANG MENYAMPAIKAN PESAN RINDUKU UNTUKMU, 

SAAT MENTARI MEMBUKA PINTU PAGI, 

MAKA KU HARAPKAN KAU MEMBALAS SALAM RINDUKU ITU PADA ANGIN SEPOI-SEPOI AGAR KU DAPAT RASAKAN LEMBUT BELAIAN RINDUMU ITU DI BENAK KU...


= JILBAB = 
masih setia kah kau dengan jilbab mu itu, 
manakala bikini dan busana ’ u can see’ di mall-mall, 
supermarket-supermarket  merobek-robek matamu . 
Masih kokoh kah nilai istiqomah mu itu 
dengan jilbab putih  tatkala amoy-amoy melenggang-lenggok pamer body di depan mata mu, 
membuat mata mu merah memanas seperti dipercik api ...


KALAU



Kalau bukan karena cinta, 
mungkin sudah ku cabik-cabik rasa sayang yang pernah kau usap kan di hasratku, 
kalau bukan karena cinta, 
mungkin sudah ku kubur kau bersama masa lalu ku yang kusam


KALUT



MALAM AKAN LARUT 

DALAM HATIKU YG KIAN KALUT, 

MENJALIN CINTAMU YG KUSUT , 

SEMENTARA RINDU YANG KU RAJUT 

SELALU SAJA DI CERCA CARUT MARUT...


=Luntur = 
Jika bunga-bunga cinta telah gugur daun nya dr taman hatimu, 
maka patah kan saja aku seperti kau patah kan ranting di pohon itu...



Kulihat senyum melati mekar di bibirmu, 
ingin ku petik, maka izinkanlah walau sesaat, 
agar bisa ku rasakan harum nya.


MASIH



Masih saja senja temaram ini yg ku telan, 
sedangkan bayangan mu kian lama kian buram saja di benak ku, 
hingga malam yg gelap ini tetap saja gelap bahkan semakin  gelap 
walau rembulan bersinar terang, 
dan akhirnya rindu yang ku pendam larut dalam perut malam .




BIARKAN



Biarkan lah hujan membasahi hati kita malam ini, 
sebab anggur cinta yang kita reguk selama ini perlahan sudah mulai kering dan layu. 
Sementara ladang asmara yang kita tanam, 
dilanda kemarau rasa jemu yang selalu menerjang .


RINDU



Diantara hiruk pikuk kota yang mengepung hari, 
diantara deru debu siang di kota ini yg senantiasa menggigigit resahku, dimana dirimu kasih, masih mekarkah rindumu itu atau iya kian layu, tak usah kau tanya rinduku, 
karena rinduku telah menjadi album puisi yang hampir kusam.

JIKA

Jika saja gemerlap malam ini kau simpan jadi album puisi, 
maka kau kenangkanlah kembali kisah-kisah asmara yang pernah kita reguk bersama, 
untuk kita buka kembali nolstalgia haru biru itu nanti, 
saat usia kita mulai senja